rss

Put First Thing First

Inilah dilema yang kerap dihadapi oleh para ibu yang baru melahirkan buah hatinya: melanjutkan karier atau berhenti demi bisa fokus sepenuhnya ke anak. Buat saya, pilihan kedua merupakan tantangan yang mesti saya jalankan sambil berharap segala kemudahan dilimpahkan ke saya.

Setelah saya menikah, saya bersyukur Tuhan langsung memberi kepercayaan kepada saya berupa kehamilan. Saya menjalaninya dengan penuh suka cita, hingga akhirnya saya dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat.

Pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya adalah, apakah saya tetap akan bekerja setelah saya memiliki anak? Dengan mantap pula, saya selalu menjawab, “Tentu saja!” Alasannya adalah karena saya memiliki banyak tujuan finansial untuk keluarga saya dan saya ingin berkontribusi dalam mencapai seluruh tujuan finansial tersebut. Caranya? Ya tentu saja dengan tetap bekerja.

Menjadi working mother ternyata tidak mudah. Terlebih pilihannya adalah menjadi working mother yang committed untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Selanjutnya baru ditambah dengan makanan pendampng ASI. Alasanyya adalah karena saya bisa, harus bisa, dan pasti bisa.

ASI adalah makanan yang memiliki nutrisi paling lengkap untuk bayi. Itu sebabnya, sangat tepat jika dibilang bahwa ASI merupakan hak para bayi. Menghindari memberikan ASI berarti sama saja melanggar hak bayi kita sendiri.

Dari informasi yang saya dapatkan, anak ASI lebih sehat, kebal alias tidak mudah terserang penyakit, dan memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding anak yang tidak mendapatkan ASI. Dengan demikian, kemungkinan ibu dari anak ASI yang tidak masuk kerja karena menjaga anaknya yang sakit menjadi lebih rendah.

Memberikan ASI atau tidak, buat saya itu pilihan setiap ibu. Yang jelas saya sadar, konsekuensi dari pilihan saya adalah saya harus punya tabungan berbotol-botol ASI yang saya kumpulkan sejak sebelum cuti melahirkan saya selesai. Selain itu, selama saya bekerja, saya juga tetap harus memompa ASI untuk saya bawa pulang, supaya anak saya tetap bisa mengkonsumsi ASI eksklusif selama saya bekerja.

Ternyata konsekuensi menjadi ‘working mother’ tidak hanya sebatas pada pemberian ASI. Sebagai bagian dari tim CRA, saya bertanggung jawab membuat MAK terhadap pengajuan kredit dari unit bisnis, sesuai job description saya. Hal ini berarti saya juga harus siap ditugaskan mengunjungi proyek-proyek debitur yang bisa berlokasi di Jakarta maupun luar Jakarta. Mengingat saya harus bisa menyelesaikan semua pekerjaan sebelum deadline, membuat saya harus berhadapan dengna masalah besar: pengelolaan waktu.

Pada awalnya saya merasa tidak memiliki masalah berarti dalam menjalani seluruh tanggung jawab dan konsekuensi atas pilihan saya menjadi working mother dari anak ASI. Mungkin karena pada saat itu load pekerjaan yang saya terima belum terlalu tinggi dann bisa saya selesaikan dengan cepat, sehingga waktu untuk memompa ASI cukup banyak. Akan tetapi, semakin lama jumlah MAK yang harus saya kerjakan makin banyak, dalam sehari saya harus bisa meng-handle beberapa account sehingga tak jarang saya harus berkejaran dengan waktu, antara menyelesaikan MAK dan tetap sempat memompa.Kuadran Prioritas Put First Thing First – Stephen Covey Alhamdulillah hingga saat ini anak saya yang telah berusia 6 bulan tetap mendapat ASI eksklusif.

Boleh dikatakan, apa yang saya lakukan hingga saat ini merupakan aplikasi dari salah satu teori Seven Habit of Highly Effective People milik Stephen Covey, “Put First Thing First”. Di sana tertulis bahwa kunci pentingnya adalah membuat skala prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan seberapa penting. Tingkat urgensi menggambarkan kapan pekerjaan tersebut harus diselesaikan, dan seberapa penting menggambarkan Covey membaginya dalam empat kuadran, yakni (1) urgent dan penting, (2) penting tapi kurang urgent, (3) urgent tapi kurang penting, dan (4) kurang urgent dan kurang penting. Covey mencontohkan kuadran satu adalah bayi menangis, dapur kebakaran, atau telepon berbunyi. Ketiga peristiwa tersebut penting dan memiliki tingkat urgensi yang tinggi untuk segera di-handle. Kuadran kedua dicontohkan seperti latihan olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, perencanaan, yang sifatnya penting namun tidak harus dilakukan segera. Contoh dari kuadran ketiga adalah adanya interupsi, pengalih perhatian, atau adanya telepon lain berbunyi, yang harus diprioritaskan namun sifatnya tidak penting. Sementara kuadran keempat misalnya bermain games, sifatnya tidak urgent dan tidak penting.

Dalam dunia pekerjaan, pengelompokan aktivitas dalam keempat kuadran didasarkan pada pertimbangan masing-masing individu. Bagi saya pekerjaan dan memompa ASI sama pentingnya. Namun saya merasa yang saya butuhkan adalah satu hal: time management. MAK saya prioritaskan untuk dikerjakan. Metodenya adalah memulai pekerjaan sedini mungkin dan berusaha menyelesaikannya jauh sebelum deadline. Waktu bekerja pun saya tambahkan, saya datang lebih pagi dan memulai pekerjaan lebih awal. Dengan begitu, saya tetap bisa menyelesaikan MAK namun tetap disiplin memompa ASI.

Tidak bisa dipungkiri pula bahwa hal terpenting yang menentukan kesuksesan dalam bekerja adalah peran support system yang berjalan dengan baik. Tanpa adanya support system tersebut, sekeras apapun usaha saya untuk menyeimbangkan seluruh peran yang saya jalani, tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Untuk dapat menjalankan seluruh tanggung jawab yang saya miliki, saya membutuhkan tim yang solid mulai dari orangtua saya yang menjaga anak saya selama saya bekerja, atasan dan kolega yang saling mendukung pekerjaan masing-masing, serta suami yang memahami posisi dan pilhan yang saya ambil sebagai working mother dari anak ASI. Memiliki support system yang baik adalah kunci keberhasilan dalam menjalankan berbagai peran yang kita miliki.

Bagaimana dengan Anda?

0 comments:


Posting Komentar

 

Pembaca

Money Online